Postingan

Hari Jadi Tuban : Antara Bumi Wali dan Nostalgia Sejarah

“Kalau ingin menjadi manusia yang hebat, jangan pernah lupakan sejarah, Lung. Bilung, adikku. Dari sejarah, kita dapat belajar,” *** Begitulah kiranya ungkapan Togog kepada adik angkatnya, Bilung ketika berbicara tentang bagaimana kebaikan selalu dikenang. Hal itu pula yang dilakukan warga Tuban dalam rangka memperingati Hari Jadi Tuban setiap tahunnya yang jatuh pada 12 November. Tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Jadi Tuban karena pada tanggal 12 Kartika 1293, Ranggalawe tekah diangkat sebagai Adipati Tuban oleh Raden Wijaya pendiri Majapahit. Tahun 2019 ini, Tuban baru saja memperingati hari jadi yang ke-726. Gelaran   hari jadi Tuban terus berlanjut hingga akhir Desember depan dengan menyuguhkan pelbagai kegiatan yang cukup padat. Beberapa tahun yang lalu, warga Tuban selalu disuguhi kegiatan yang berkaitan dengan religi sebagaimana jargon Tuban sebagai Bumi Wali yang terus dikumandangkan bak gelindingan bola salju yang kian membesar kemudian mele...

Gu Family Book : Semiotik dan Pesan yang Melingkupinya

Gambar
Part 1 Ada yang terus berputar dalam otak saya. Seperti kekasih yang senantiasa mewarnai hati dan pikiran, saya juga sedang dilanda satu hal yang terus mengisi relung hati dan memori otak saya dengan kepesonaannya. Tapi bukan kekasih tentu saja. Ini tentang karya. Salah satu hasil karya yang membuat saya jatuh cinta, layaknya gadis yang menemukan cinta sejatinya. Tak beda jauh dengan kisah antara saya dengan roman Bumi Manusianya Pram, yang merupakan roman cinta pertama saya. Kali ini lebih pada drama cinta   sejati saya, sebab telah Sembilan kali telah saya katamkan drama seri tersebut. Gu Family Book. Begitu judul yang diputuskan penulis sebagai salah satu drama dari negeri Ginseng yang pesonanya tak memudar. Ya, saya memang penikmat drama Korea. Sejak saya duduk di tingkat Sekolah Menengah Atas hingga saya telah merampungkan pendidikan strata 1, sudah puluhan judul drama yang saya tonton. Tetapi dari sekian puluhan judul itu ada satu yang paling membekas. Paling da...

SURAT UNTUK IBU PERTIWI

Kepada yang Tercinta dan Terkasihani Indonesiaku, Ibu Pertiwi di Tanah Surga Kepada ibuku, Indonesiaku. Maaf telah menjadi sampah bagimu. Di segala sudut tubuhmu, k ami baringkan badan kami. Pada dinding-dinding lusuhmu kami sandarkan kepala kami, Dengan segala kepelikan hidup. Di tanahmu, kami kuburkan anak-anak kami, orangtua kami, dan keluarga kami, ketika tak lagi bermanfaat bagimu Pada pohon dan tanahmu kami bakar hebat–lahap tak tersisa, Hanya untuk realisasikan impian kami menjadi gedung mewah pencakar langit Dalam pelukanmu, kami curahkan nafsu manusia kami. Di sisa harta yang kau milikki, kami gadaikan – kami jual untuk mempertinggi derajat kami Kepada Indonesiaku, yang tulus dengan segala kerendahan hati menerima, dan membiarkan kami tumbuh Maaf telah menyumbat jantungmu hingga kau tak dapat bernafas Maaf telah menghancurkan otakmu , membuatmu tak dapat lagi berpikir jernih, dan kau menjadi setengah gila Gila harta! Gila tahta, gila ...

Kita Telah Biasa

Kita diajarkan untuk terus memberi Sampai lupa bagaimana cara menerima Menerima pemikiran orang dengan terbuka Menerima saran dengan ikhlas Menerima kesalahan  dengan senyuman Kita terlalu sering diarahkan berpikir positif pada diri Hingga lupa bahwa diri tak selamanya benar Lalu dengan mudah menyalahkan orang Membiasakan diri pada pembenaran, bukan kebenaran Kita disiapkan untuk terus maju Tanpa mengingat bahwa mundur bukan berarti kalah Lantas melabeli yang kalah pasti salah Akibat kalimat “Kebenaran pasti menang” Hidup terus kita arahkan ke atas Lalu menganggap hina pada bawah Kita terus menjadi tinggi Hingga lupa cara merendah Kualitas diri diyakinkan tak terbatas Sedang kita sendiri serba terbatas Seperti hidup melulu targetkan sukses Tanpa tahu bagaimana rasa berproses Lantas lupa bahwa hidup bukan hanya tentang kata mata Lalu tanpa sadar sabar dan ikhlas pernah ada Dan kita telah benar-benar meninggi Tinggi jabatan, ...

MEMESAN KEBAJIKAN PADA RAHWANA

Aku Bhumi. Ibuku memberikan nama itu padaku agar aku senantiasa berjalan pada ketulusan dan pengabdian. Kata ibu, Bhumi perlambang ketulusan dan keikhlasan. Sekali pun ia diinjak, diludahi, atau dijadikan penguburan sampa h. I a tetap menerima. Ibu menginginkan aku jadi orang macam itu. Sayangnya ketulusan tak pernah membuahkan hasil baik. Buah dari ketulusan dan kesetiaan pada pengabdianku mengantarkanku pada bilik dingin dengan kawalan jeruji besi. Menjadikanku seorang kriminal. Ah, kalau saja waktu itu aku menuruti nafsu buat keselamatan dan kesejahteraanku, sudah ku naikkan haji ibuku yang tersayang itu. Sudah kubelikan rumah megah pula dan kupersembahkan menantu nan cantik dan menawan buatnya. Ibu akan duduk di singgasana kehormatan dan kemewahan diiringi puji-pujian banyak orang. Tapi tidak. Kenyataanya ibuku tinggal hanya bersama adik perempuanku , yang kini sedang banting tulang menggantikanku menjadi tulang punggung keluarga. Sedang i buku hanya seorang tukang jahit ya...

MENGINTIP PERJALANAN BAHASA INDONESIA: BAGAIMANA BAHASA INDONESIA LAHIR?

Bahasa indonesia merupakan bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia. Hal ini di tetapkan sejak 28 Oktober 1928 saat Sumpah Pemuda. Namun bagaimana awal mula bahasa indonesia berkembang dan dapat di jadikan bahasa pemersatu dari beragam suku bangsa di Indonesia? Simak sejarah munculnya bahasa indonesia berikut. Bahasa indonesia lahir dari bahasa melayu, Lebih tepatnya melayu Riau. Pada saat itu, jalur perdangan terpusat di kepulauan Riau, pedagang menyepakati satu bahasa sebagai bahasa komunikasi antarpedagang dan di sepakati bahasa Melayu Riau sebagai bahasa komunikasi. Pada 1901, Indonesia yang saat itu masih sebagai Hindia Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen. Ejaan tersebut diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Kemudian pada tahun 1908 Pemerintah Hindia-Belanda (VOC) mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (...

Kutu Busuk

“Kerjakan di luar . Selalu saja kau tak pernah mengerjakan tugasmu!” suara itu menggeragapkan gadis kecil bertubuh gempal, membuatnya tak tahu lagi harus bicara apa kepada seseorang yang disebut-sebut pengabdi negara itu. Ia takut. Ya, hanya rasa takut yang terus menggema dalam hatinya saat suara dan ekspresi wajah pengabdi negara itu menghujani kata-kata dengan iringan amarah. Tak ingin mendengar cecaran amarah dari wanita berusia 40 tahun kurang itu, ia hanya menunduk bersama kawan-kawannya yang lain, yang tentu bernasib sama dengannya. Telinganya sudah kebal dengan ucapan yang muncul dari mulut pengabdi negara itu.             “Memang apa saja yang kau kerjakan di rumah? Buku pelajaran pun tak pernah kau bawa, tapi tasmu selalu penuh” tambah wanita itu. Si gadis bergeming sambil menatap rangkaian ubin kelasnya yang tampak bersih. Tak ingin berlama-lama memarahi tiga bocah yang membuatnya kesal, si pengabdi negara itu m...